Return to site

Fintech Peer-to-Peer Lending di Mata Pelajar SMA Juara Kompetisi Ekonomi Bisnis

· News

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berjiwa entrepreneur, salah satunya dengan menantang anak-anak muda di berbagai perlombaan antarsekolah. Itulah yang berusaha dilakukan oleh Universitas Prasetiya Mulya lewat kompetisi Business Economics Strategies, BEST Challenge 2018. Di tahun ketiganya, kompetisi ini mengangkat topik P2P (peer-to-peer) lending dan Co-Founder Dana Cita, Susli Lie, diberi kehormatan untuk menjadi salah satu jurinya.

Co-Founder Dana Cita, Susli Lie, Menjadi Juri Kompetisi Peer-to-Peer Lending

Co-Founder Dana Cita, Susli Lie, menjadi salah satu juri BEST Challenge 2018

Seperti yang telah diketahui, Dana Cita merupakan salah satu startup financial technology (fintech) yang menggunakan metode P2P lending. Pada dasarnya, istilah peer-to-peer merujuk pada sebuah sistem atau jaringan yang saling terhubung satu sama lain dalam medium online. Dana Cita sendiri berperan sebagai platform yang menghubungkan pelajar/mahasiswa dengan lembaga-lembaga penyedia dana. Melihat semangat seluruh peserta BEST Challenge 2018 untuk melahirkan ide-ide inovatif terkait P2P lending—yang mana sedang menjadi topik hangat, Dana Cita pun tertarik untuk berdiskusi lebih jauh dengan para pelajar SMA ini.

BEST Challenge 2018: Kompetisi Peer-to-Peer Lending

BEST Challenge 2018, kompetisi ekonomi bisnis yang diselenggarakan oleh Universitas Prasetiya Mulya

Dari puluhan calon peserta yang mendaftar BEST Challenge 2018, 18 finalis berhasil tersaring untuk melalui beberapa babak penyisihan, hingga akhirnya terpilih tiga tim pemenang yang berhasil memukau para juri dengan ide-ide serta wawasan mereka tentang P2P lending. Nah, pada hari Rabu, 17 Oktober 2018, Dana Cita kedatangan tamu istimewa, yaitu ketiga anggota tim peraih juara pertama BEST Challenge 2018!
 
Berbekal rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia P2P lending, Dustin, Michael, dan Nathan—siswa kelas 1 SMA IICS (IPEKA Integrated Christian School)—bertandang ke kantor Dana Cita untuk mengenal lebih jauh dunia startup fintech P2P lending, khususnya yang fokus pada sektor pendidikan. Kunjungan tiga orang pelajar berprestasi ini pun disambut dengan hangat oleh tim Dana Cita.

Siswa SMA IICS Juara Kompetisi Peer-to-Peer Lending Berkunjung ke Kantor Dana Cita

Kiri ke kanan: Dustin, Michael, Nathan (Juara I BEST Challenge 2018 asal SMA IICS)

Setelah perkenalan singkat dengan seluruh anggota tim, kami pun mengajak Dustin, Michael, dan Nathan untuk berbincang-bincang dengan beberapa divisi perwakilan Dana Cita. Bersama tim Operations, mereka mendapat penjelasan mengenai cara kerja pinjaman pendidikan Dana Cita, sementara tim Marketing menceritakan bagaimana Dana Cita berkomunikasi dengan masyarakat untuk meraih calon pengguna pinjaman pendidikan. Tak hanya itu, mereka juga berkesempatan untuk berdiskusi eksklusif dengan para co-founders.
 
Pertemuan kami dengan para pelajar yang memiliki prestasi cemerlang ini tentunya tak ingin kami lewatkan begitu saja. Mereka pun bersedia untuk duduk bersama di akhir sesi kunjungan untuk berdikusi seputar fintech P2P lending—sebuah topik yang awalnya asing bagi mereka, tapi ternyata mampu mereka kuasai dan tak disangka berhasil membawa mereka menjadi juara pertama BEST Challenge 2018.
 
 
Apa itu P2P lending?
 
Secara sederhana, Dustin dan Nathan mengartikan P2P lending sebagai sebuah proses di mana perusahaan menjadi medium atau perantara antara borrower (peminjam) dan lender (pemberi pinjaman). Jika sebelumnya sudah ada bank, keberadaan P2P lending yang didukung dengan teknologi dan Internet ini membuat proses pinjam meminjam jadi lebih cepat dan convenient. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Michael yang menyebutkan bahwa dengan adanya platform digital, perusahaan P2P lending bisa menjangkau lebih banyak orang di seluruh Indonesia.
 
Diakui oleh Nathan, sejak mengikuti kompetisi BEST Challenge 2018, mereka melihat bahwa perkembangan teknologi finansial di Indonesia sudah jauh lebih maju. Bahkan, walaupun masih berada di tahap awal, dampak positifnya sudah benar-benar terasa oleh masyarakat. Menurut Michael, P2P lending berhasil menyederhanakan proses yang harus dilalui di bank. “There’s demand, but the supply is lacking and that’s when these P2P companies — including Dana Cita — come in and fulfill the demand,” ujarnya.
 
Saat ikut serta dalam BEST Challenge 2018, Dustin, Michael, dan Nathan mendalami seluk-beluk P2P lending dengan melakukan riset dalam waktu yang terhitung singkat. Bermula dari mengumpulkan video tentang satu topik pilihan, yakni crowd-funding, selanjutnya kreativitas dan critical thinking mereka semakin diuji pada hari kompetisi. Dalam waktu satu minggu, mereka merencanakan sebuah sistem P2P lending yang unik. Salah satu inisiatif mereka adalah menyasar target pasar yang spesifik—yakni kelompok usaha mikro dan berkolaborasi dengan beberapa perusahaan e-commerce yang sudah memiliki nama besar.
 
Mereka bertiga pun menganggap konsep P2P yang ditawarkan Dana Cita tergolong inovatif. Dustin menuturkan bahwa yang dilakukan dengan baik oleh Dana Cita adalah, bukan hanya menjembatani kendala finansial pelajar yang sebenarnya penuh dengan potensi, tapi juga aktif mengembangkan komunitas. Dalam sesi diskusi sebelumnya, tim Marketing memang sempat menjelaskan tentang program community building Dana Cita, seperti Campus Ambassador dan event Dana Cita Inspiring Forum.

“Dana Cita telah berhasil memberikan sebuah solusi menggunakan sistem P2P lending yang diintegrasikan dengan sektor pendidikan. Kalau lebih banyak orang melakukan hal serupa, hal ini akan sangat membantu perekonomian negara kita,” ujar Nathan.

Mengapa masyarakat Indonesia harus melek teknologi finansial?
 
Industri fintech di Indonesia sedang berkembang pesat, tapi pemahaman masyarakat masih sangat kurang. Dustin, Michael, dan Nathan selalu menekankan bagaimana perusahaan-perusahaan fintech telah menciptakan revolusi untuk mempermudah masyarakat, dan menyediakan solusi untuk memecahkan berbagai masalah. “It’s convenient, it’s really easy to use, and it’s very efficient.” Namun, mereka juga sepakat bahwa sebagian orang masih skeptis untuk memaksimalkan kemajuan di era teknologi ini.
 
Ketika ditanya bagaimana cara meyakinkan masyarakat yang masih khawatir terhadap aspek keamanan fintech, Michael berpendapat bahwa dalam setiap bisnis selalu ada risiko. Jadi, pertanyaannya bukan mengenai ada atau tidaknya risiko, tapi bagaimana cara mengelola risiko tersebut. “Di banyak perusahaan fintech, sudah ada tim risk management. Jadi, yang bisa perusahaan lakukan adalah menerangkan kepada konsumen bahwa inilah hal-hal yang perusahaan lakukan untuk meminimalisir risiko tersebut,” imbuhnya.
 
Pernyataan Michael tadi sejalan dengan komitmen Dana Cita kepada masyarakat. Sebagai perusahaan yang terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan)—yang merupakan lembaga pengawas resmi, sudah menjadi tanggung jawab Dana Cita untuk mematuhi prosedur dan ketentuan yang ditetapkan guna melindungi keamanan semua pihak yang terkait. Misalnya, melalui pengadaan sistem dan SDM yang memadai—tak terkecuali divisi risk management. Jadi, selain menawarkan solusi, Dana Cita dan perusahaan fintech lainnya juga akan terus mengedukasi masyarakat agar mau beradaptasi terhadap perubahan ini.
 
Nathan cukup yakin bahwa selama perusahaan bisa membuktikan kepada masyarakat bahwa seluruh data dan transaksi mereka aman—walaupun tentunya ini bukan proses yang mudah dan instan, perlahan masyarakat akan mulai terbiasa. Sama halnya dengan tren online payment yang awalnya diragukan, tapi belakangan ini penggunanya terus meningkat. “Jika kita mau negara kita dan masyarakatnya maju secara ekonomi, mereka juga harus mau mengenal the easy way that is available for them, and that easy way, I think, is basically through that financial technology,” ujarnya.
 
Di tengah diskusi yang menarik ini, Dustin mengutip salah seorang penulis asal Inggris, Arthur C Clarke—yang dikenal dengan Clarke’s Laws, yaitu "Any sufficiently advanced technology is indistinguishable from magic.
 
Masyarakat mungkin takut dengan “magic”—yang dalam hal ini adalah kemajuan teknologi itu sendiri. Akan tetapi, menurut Dustin masyarakat juga perlu menyadari bahwa mereka harusnya bersatu dengan perusahaan-perusahaan tersebut, karena pada dasarnya keduanya mempunyai satu goal of success yang sama. Contohnya, Dana Cita yang bercita-cita membantu seluruh pelajar di Indonesia untuk merasakan hak pendidikan tingginya.
 
Sebelum mengakhiri obrolan kami dengan ketiga pelajar ini, Dustin, Michael, dan Nathan sedikit bercerita tentang rencana studi mereka usai SMA. Mengingat mereka masih duduk di bangku SMA kelas 1, they want to keep an open mind. Nathan, misalnya, mengaku tertarik untuk mempelajari bisnis, tapi ia dan kedua temannya tak mau sembarangan ingin berbisnis tanpa ada goal yang jelas. “It’s not about the business, but what you want to do business with,” tandasnya.

Siswa SMA IICS Juara Kompetisi Peer-to-Peer Lending BEST Challenge 2018

Terima kasih sudah berbagi dengan kami, Dustin, Nathan, dan Michael! :)

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OKSubscriptions powered by Strikingly