Return to site

Dana Cita Inspiring Forum: Yang Harus Diketahui Sebelum Memutuskan Antara Bekerja di Startup atau Korporasi

· News,Inspiring Forum

Mencari pekerjaan pertama tidak selalu mudah. Bisa jadi bukan karena kesempatan kerja yang terbatas atau persaingan yang ketat, tapi tak jarang disebabkan oleh kebimbangan fresh graduate itu sendiri yang memang masih minim pengalaman. Salah satu faktor kebimbangan para pencari kerja ini adalah memutuskan antara bekerja di startup atau korporasi. Situasi inilah yang berusaha kami jawab melalui acara Dana Cita Inspiring Forum (DCIF): Startup vs Corporate Life.

Dalam DCIF kali ini, Dana Cita mendatangkan dua sosok berpengaruh di kedua jenis perusahaan, yaitu Kartika Akbaria, yang menjabat sebagai People Operations Business Partner for Grab Financial Group & Head of Organization Development and Culture, Grab Indonesia, serta Enny Hartati Sampurno, selaku Vice President Customer Development (Board of Director) PT Unilever Indonesia.

Dengan memadukan topik yang hangat dan narasumber berpengalaman dari dua perusahaan ternama di Indonesia, DCIF kali ini berhasil menarik minat dan antusiasme banyak anak muda untuk bergabung dan mencari inspirasi bersama. Terbukti, acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018 ini dihadiri oleh kurang lebih 140 orang peserta.

Bertempat di Conclave Wijaya—sebuah co-working space yang berlokasi di kawasan Jakarta Selatan, acara istimewa ini dimulai tepat waktu, yaitu pukul 14.00 WIB. Setelah dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan sambutan dari Susli Lie (Co-Founder Dana Cita), kita pun memasuki inti acara, yaitu presentasi dan diskusi bersama narasumber yang dipandu oleh Rheza Bayu (Business Development & Partnerships Lead Dana Cita) sebagai moderator.

Dana Cita Inspiring Forum: Startup vs Corporate Life

Dana Cita Inspiring Forum mengungkap kehidupan kerja di startup dan korporasi

Life at Startup

Sebagai narasumber pertama, Kartika Akbaria—atau yang bisa disapa Mbak Tika—mewakili “kubu startup” untuk memberi gambaran mengenai rasanya berkarier di lingkungan perusahaan yang baru merintis. Meskipun menurutnya Grab sudah tak bisa lagi disebut startup, mengingat jumlah karyawannya—yang dijuluki Grabber—sudah mencapai ribuan orang di seluruh dunia, dan secara sistem pun mulai menyerupai korporasi, tapi budaya startup-nya masih melekat. Itulah yang membuat Mbak Tika merasa bisa terus tumbuh di dalam Grab.

Selama lebih dari 10 tahun pengalamannya di bidang Human Resources (HR), Mbak Tika pernah mengalami bekerja di perusahaan korporat dan juga startup. Tak heran kalau sejak awal presentasinya, wanita lulusan MBA Industrial Management, National Taiwan University of Science & Technology ini, sudah menekankan satu hal yang kita ingat hingga akhir acara, yaitu bahwa perbandingan antara startup dan korporasi di sini bukanlah dilakukan untuk melihat mana yang lebih benar, mana yang lebih tepat, atau mana yang lebih hebat, karena semuanya tergantung pada purpose atau tujuan masing-masing.

Kartika Akbaria dari Grab Indonesia menjadi pembicara di Dana Cita Inspiring Forum: Startup vs Corporate Life

Kartika Akbaria dari Grab Indonesia berbagi cerita perjalanan kariernya di startup dan korporasi

Bekerja di Startup Dituntut untuk Serba Cepat

Mbak Tika menyebutkan bahwa manajemen di startup sangatlah agile. “Eksekusi sama planning bisa jalan bareng. Satu orang bisa pegang beberapa role sekaligus, tapi kita tetap happy menjalaninya,” cetusnya. Apalagi diakui Mbak Tika perubahan di perusahaan tersebut bisa terjadi setiap dua bulan sekali. Dengan kata lain, setiap karyawan dituntut untuk mampu bekerja secara cepat dan gesit. Bukan itu saja, ada beberapa poin penting lain yang disampaikan Mbak Tika yang menggambarkan suasana kerja di Grab:

  • Budaya yang berusaha dibangun oleh Grab adalah mendengarkan keinginan para Grabber, tanpa memanjakan mereka. Berbeda dari banyak perusahaan lain yang harus menunggu semester performance appraisal, Grab punya sesi one-one-one mingguan antara manager dan anggota tim. Grab percaya bahwa di tengah kemajuan teknologi yang cepat, feedback dan aspirasi karyawan harus didapatkan secara real-time.

“Kita percaya bahwa invest di people (employee) sama pentingnya dengan invest di bisnis itu sendiri. Kalau people-nya happy, maka dia akan melayani mitranya (agent, driver, dll) dengan happy juga. Kalau mitranya happy, customer-nya juga happy, sehingga tujuan untuk win customer’s heart tercapai.”

  • Bagi Grab, kepintaran bukan satu-satunya tolok ukur dalam merekrut karyawan. Walaupun seorang karyawan pintar, tapi tidak punya attitude yang sesuai dengan DNA perusahaan, it’s not gonna work. Itulah mengapa penting bagi tim Grab untuk mencari tahu, apakah seorang calon Grabber adalah individu yang customer-oriented dan punya passion untuk mengubah kehidupan orang lain jadi lebih baik.
Dari beberapa gambaran suasana kerja di Grab yang disampaikan oleh Mbak Tika, dapat disimpulkan bahwa agility merupakan salah satu landasan Grab dalam membangun budayanya.
Para Peserta Dana Cita Inspiring Forum: Startup vs Corporate Life

Peserta Dana Cita Inspiring Forum: Startup vs Corporate Life serius menyimak informasi dari para narasumber

Life at Corporate

Setelah mendapat bocoran tentang kehidupan di dunia startup lewat pengalaman Mbak Tika, para peserta DCIF kemudian diajak menelusuri perjalanan karier Enny Sampurno yang bergabung dengan Unilever sejak tahun 1991. Mendengar fakta tersebut, seluruh peserta yang memenuhi ruangan acara DCIF pun semakin dibuat penasaran. Apa saja yang ditawarkan oleh perusahaan korporat multinasional sekelas Unilever sehingga membuat Mbak Enny mendedikasikan 27 tahun waktunya di satu tempat yang sama?

Sebelum menduduki posisi Board of Director, Mbak Enny melewati 14 tahun kariernya di bagian Finance Unilever—sesuai dengan jurusan Akuntansi yang ditempuhnya semasa kuliah di Universitas Parahyangan, Bandung. Setelah itu, ia sempat berpindah-pindah ke bagian supply chain, HR, dan akhirnya sales. Kesempatan cross-function ini rupanya menjadi salah satu kelebihan berkarier di perusahaan sebesar Unilever.

Diakui Mbak Enny, waktu 27 tahun tidak terasa kalau kita happy. “Mau kerja di mana saja (startup atau well-established company), yang buat kita bisa bertahan adalah kalau kita suka dengan pekerjaannya,” tegasnya. Begitu pula dengan perpindahan divisi yang Mbak Enny alami. Meskipun sempat merasa keberatan, pada akhirnya ia melihat tantangan tersebut sebagai kesempatan untuk berkembang.

Dua hal lain yang digarisbawahi oleh Mbak Enny adalah pentingnya energy management—bukan cuma time management, serta apa yang menjadi motif kita dalam bekerja. Prinsip Mbak Enny sendiri adalah, selama dia bisa belajar setiap hari, itulah yang membuatnya happy dan memberikannya energi. Beruntung semua itu berhasil ia peroleh di Unilever.

 Enny Sampurno dari PT Unilever Indonesia menjadi pembicara di Dana Cita Inspiring Forum: Startup vs Corporate Life

Enny Sampurno sudah 27 tahun berkarier di PT Unilever Indonesia dan berkali-kali mengalami perpindahan divisi

Berdasarkan pengalamannya tersebut, Mbak Enny pun menyimpulkan beberapa hal yang membedakan perusahaan korporat dari startup:

1) Sistem dan proses kerja di perusahaan korporat sudah matang. Ketika bergabung dengan perusahaan, karyawan langsung dihadapkan dengan sistem yang jelas. Mereka juga mendapatkan bimbingan step by step, contohnya lewat program Management Trainee (MT) Unilever, di mana peserta dididik selama 3 tahun dan setiap 6 bulan sekali dirotasi ke berbagai bagian.
 
2) Berbeda dari startup yang masih membangun culture dan menyesuaikannya dengan perubahan yang terjadi terus menerus, sebagai perusahaan korporat, Unilever memiliki budaya yang sudah terbentuk.

3) Perusahaan besar umumnya punya banyak kategori brand. Dengan begitu, seorang karyawan bisa belajar dari satu brand ke brand lain, atau satu divisi ke divisi lain seperti yang dialami Mbak Enny. Bukan itu saja, kesempatan untuk berpindah antarnegara—atau yang disebut international rotation—juga sangat terbuka dan difasilitasi oleh perusahaan.
 
Meskipun ditemukan beberapa perbedaan, startup dan korporasi—di mata Mbak Enny—mempunyai satu kesamaan, yaitu keduanya sepakat bahwa dalam bekerja yang terpenting bukan cuma hard skill, melainkan attitude dan culture atau nilai-nilai yang dianut oleh seorang karyawan juga harus sama dengan perusahaan.

Para narasumber dan moderator Dana Cita Inspiring Forum: Startup vs Corporate Life

Baik startup maupun korporasi sama-sama mencari karyawan dengan attitude dan culture yang sesuai dengan perusahaan

Benefit Karyawan Startup dan Korporasi

Di sesi tanya jawab, kami menerima banyak sekali pertanyaan menarik dari para peserta, salah satunya adalah tentang benefit yang disediakan oleh startup dan juga korporasi. Sebagaimana disampaikan Mbak Tika, benefit ini biasanya dikelompokkan menjadi cash, non-cash, dan perks. Idealnya, kompensasi berupa cash setiap perusahaan disesuaikan dengan range angka di pasaran, sedangkan untuk benefit non-cash contohnya adalah asuransi. Nah, bagaimana dengan perks?

Perks dapat diartikan sebagai suatu benefit tambahan yang secara khusus disediakan oleh perusahaan di luar gaji maupun tunjangan lain yang diterimanya. Terkadang bentuk perks ini terbilang unik dan tidak banyak dijumpai di perusahaan lain. Misalnya, ada perusahaan yang memberikan snack gratis, voucher gym, diskon belanja khusus karyawan, kesempatan untuk bekerja secara remote—alias tak harus datang ke kantor, dan masih banyak lagi.

Pengelompokkan benefit sebagai perks tentu saja berbeda-beda di setiap perusahaan. Nah, startup sendiri disebut-sebut mempunyai perks yang lebih menarik daripada korporasi. Benarkah demikian?

Mbak Tika mengungkapkan bahwa Grab cukup fleksibel dalam pemberian perks. Contohnya, pengadaan Grab for Business untuk seluruh Grabber. Akan tetapi, karena perusahaan sangat terbuka dengan masukan para karyawan, perusahaan pun menemukan bahwa ternyata pemberlakuan benefit ini tidak dapat dinikmati secara maksimal oleh seluruh karyawan. Alhasil, baru-baru ini ditetapkanlah flexible benefit, yang mana memungkinkan benefit transportasi tersebut untuk disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing karyawan.

Tak kalah dari Grab, benefit yang ditawarkan oleh Unilever juga berhasil memukau para peserta DCIF. Bukan cuma gedung kantor yang sangat besar dan modern, Unilever juga memanjakan para karyawannya dengan fasilitas yang begitu lengkap. Mulai dari perpustakaan, ruang entertainment, daycare, klinik, salon, hingga gym dan berbagai club olahraga. Unilever percaya bahwa jika karyawan happy, produktivitasnya juga akan meningkat.
 

Jadi, pilih bekerja di startup atau korporasi?

Mengutip apa yang disimpulkan Mbak Tika di akhir presentasinya, ada satu poin penting yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan dalam berkarier. Menurutnya, tak ada yang salah mau bekerja di startup atau korporasi. Yang penting adalah ketiga hal ini:

1) Grow
Apakah kita bisa tumbuh, secara humility, mind atau brain, gut atau instinct, dan secara karier?

2) Empowered
Apakah skill kita benar-benar diberdayakan oleh perusahaan? Atau, kita justru terlalu banyak diam tanpa pekerjaan yang jelas?

3) Happy
Apakah kita senang menjalani pekerjaan tersebut?
 
Kalau ketiga pertanyaan di atas sudah terjawab, bekerja di perusahaan yang baru merintis maupun yang sudah mapan sama saja. Yang terpenting, apa yang menjadi purpose atau tujuan hidup kita.

Sesi tanya jawab Dana Cita Inspiring Forum: Startup vs Corporate Life
Salah satu penanya Dana Cita Inspiring Forum: Startup vs Corporate Life

Serunya sesi tanya jawab Dana Cita Inspiring Forum: Startup vs Corporate Life

Usai berdiskusi dengan dua orang narasumber yang membagikan banyak cerita seru dan menginspirasi, acara yang sangat spesial ini pun ditutup dengan kuis berhadiah dan foto bersama. Seluruh peserta tampak puas dengan apa yang mereka dapatkan dari acara ini, dan bahkan banyak di antara mereka yang tak ingin buru-buru meninggalkan lokasi acara karena ingin berbincang lebih lama dengan tim Dana Cita dan para narasumber.

Kami pun merasa sangat senang bisa membantu menyalurkan semangat anak-anak muda Indonesia yang penuh dengan rasa ingin tahu dan selalu haus akan ilmu. Dana Cita Inspiring Forum diselenggarakan sebagai wadah untuk saling berbagi, memperluas jaringan, serta saling menginspirasi. Sesuai dengan tagline-nya: Sharing. Connecting. Inspiring.

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OKSubscriptions powered by Strikingly